risah kala bertolak dari sauh yang semula tertambat
memaksa kenangan akan lembayung teduh, meluruh..
imaji kian keruh..
rinduku melepuh..padahal baru separuh jauh kukayuh
9 Okt 12
-sign out-
jejak rangkai aksara
Selasa, 09 Oktober 2012
Mau Tahu Rayu
Tak tahu sebab tak mau
tak mau sebab tak mampu
tak mampu jika tak tahu
cilaka bila tak mau tahu
padahal tak tahunya, mampu...
sungguh ujaran nan ampuh
bagi jiwa yang rapuh
asa pada rasa, tak mampu terengkuh...
sungguh angkuh sang mau
atau hanya kerna tak mampu untuk tahu
mungkin juga kurang ayu...
lantas layu selepas menggebu...
01 Okt 12
-seusai rangkaian gambar bergerak-
01 Okt 12
-seusai rangkaian gambar bergerak-
Jumat, 23 Maret 2012
The Vow
Lets start again with movies. Di samping reading and writing, movies is also my passion. Segala rupa film dari yang isinya perang-perangan, tebak-tebakan a.ka pelm-pelm yang kudu mendedikasikan otak sampai roman picisan pun kayaknya hampir semua dilahap. Nggak terbatas sama film-film berbudget guede hasil production house ternama, film-film indie pun beberapa sempat tercicipi tuh.
Dari sekian banyak film yang dikunyah, yup dikunyah, pilihan kata kerja yang menunjukan sebuah aksi, tidak pasif. Saya nggak setuju sama orang yang bilang menonton adalah kegiatan pasif. Buktinya, saya ini malah cenderung jadi hiperaktif setelah menonton apa pun itu, bahkan nontonin orang baku senggol di jalan raya aja bisa bikin saya aktif, aktif bergerak entah untuk nyela, entah untuk olah otak dengan menjadikannya bahan tulisan. Well, balik ke “dari sekian film hasil kunyahan”… Menurut saya, di setiap film pasti ada sebuah pesan yang ingin disampaikan. Semua ide cerita punya flow yang nantinya menggiring kita sampai pada suatu pemahaman, ya tergantung pada kapasitas pola pikir masing-masing juga sebenernya untuk menafsirkan.
Diantara film yang saya kunyah di awal perempat tahun ini, ada satu film yang cukup menorehkan kesan dan tak hanya pesan. Seumur-umur saya nonton film, seinget saya baru tiga kali saya meneteskan air mata selepas mengunyah film, yang pertama Kuch Kuch Hota Hei (Heiii..jangan nyelaa!! iye tahu, itu pelm India, tapi emang booming kaaan krn ide ceritanya yg down to earth?!! Hahaha…dgn kata lain, amat dekat dgn realita hidup para galau-ers), kedua Armageddon, ketiga Hachiko daaaaaan film keempat yang sukses bikin rada banjir adalah THE VOW…
Pengemasan film The Vow sebenernya mungkin nggak segitu orisinilnya sih, beberapa film sempat turut memasukan unsur ke-amnesia-an sebagai point of story. Sebut saja Meteor Garden II dan Boys Before Flower (laaah salaah..ini mah emang satu cerita ye) hmm..apalagi ya…oh iya, 50 First Date. Film-film tersebut cukup bagus mengangkat unsur ke-alpha-an memori kita untuk mengingat momen-momen yang patut dijadikan momentumori. Tapi pada film The Vow ada makna tersirat yang buat saya pribadi memicu sebuah gagasan. The Vow menggagas saya untuk bertanya.
Dimulai dengan permasalahan Channing Tatum (yang lezat dipandang..lah salah fokus) yang istrinya kehilangan ingatan. Apesnya, si istri hanya kehilangan ingatan seputar masa-masa setelah ketemu si Channing Tatum. Semakin berusaha diyakinkan, semakin si istri nggak yakin dengan serpihan kenangan yang disodorin Channing Tatum entah lewat bukti photo maupun rekaman voice mail. Ceritanya bergulir di seputar usaha Channing Tatum get back his life with his wife. Saya pribadi suka dengan open ending, karena kayaknya ikut mencerdaskan penonton atau penikmat cerita. Open ending memberi kesempatan pada para “pengunyah” untuk berpikir, menyimpulkan atau bahkan berkhayal ending yang sesuai persepsi masing-masing.
Di balik seluruh scene yang bergulir, di benak saya justru muncul pertanyaan-pertanyaan yang merujuk pada real life. Terkadang, lupa nggak hanya terjadi sebab amnesia atau gejala penyakit. Saya membayangkan perjuangan Channing Tatum yang mungkin juga dialami orang kebanyakan.
Nggak sedikit orang yang melupakan hal-hal sederhana tapi sebenernya ber-impact sooo deep. Saya membayangkan perasaan ketika orang yang sekian lama berdampingan, suddenly saling melupakan. Lupa bagaimana akwardnya pertemuan pertama, lupa hal-hal yang akhirnya mendekatkan, lupa tentang joke yang mereka bagi, lupa tentang perjuangan untuk mewujudkan kebersamaan. How could they change? Well, kenangan nggak akan pernah berubah, tapi sense kita terhadap suatu peristiwa itu yang sungguh ajaibnya bisa bergeser. Gelak tawanya yang tadinya penting, suddenly terasa ganggu. Tegurannya yang tadinya bikin tersanjung karena merasa diperhatikan, eh sekarang malah bikin kita gerah.
The vow, sebuah sumpah. Perihal janji setia bersama yang katanya hingga maut memisahkan dan tak ada satu manusia pun bisa memisahkannya kecuali Tuhan, jujur sempat membuat tersenyum skeptic. Nah orang-orang yang tercerai, apakah saat itu Tuhan yang memisahkan mereka? Sejauh yang saya lihat, kekuatan pengadilan negri sudah cukup bisa memisahkan manusia yang tadinya terikat there vow itu.
Tahukah kamu apa itu janji dan apa itu komitmen? Buat saya, komitmen adalah bagaimana kita memegang teguh sebuah janji, bukan pada orang lain, tapi janji pada diri sendiri. Usah umbar janji pada orang lain untuk mencintai, menjaga atau menyanjungnya. Saat kita berkomitmen pada apa yang kita ucapkan, that’s the truly best vow.
Pertanyaannya, are we gonna still fight, if on the way we keep that vow, were not only hurt our self but them also. Dilematis bukan? Saat kita ingin berjuang untuk berada di dekatnya untuk menjaganya, tapi detik itu justru mengawali kedukaannya. Apakah melepaskan adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk menjaga rianya?
I ain’t believe in happy ending love story,
cause for me…true love is never ending.
24 Maret 12
-detik menjelang subuh-
Langganan:
Postingan (Atom)


