Senin, 27 Desember 2010
Menangkal Sangkalan
memang mungkin kembali tertampung awan,
namun bilamana nila yang telah menitik dalam sebelanga susu,
mampukah disusut kembali?
Wajarkah bila seorang professor anatomi mengaku tak tahu mana tangan kanan mana kaki kiri?
Manakala kita terlanjur mengenal hingga sukma,
macam mana berperilaku seakan sebatas mengingat nama belaka?
27 Des 10
-senja paling menyiksa-
Peramu Semu
Apabila ku berasumsi bahwa matahari adalah panas,
hujan adalah basah,
salju adalah dingin..
terobsesi akan alurkah?
Bilamana sangkaanku es itu membeku,
coklat itu meleleh,
gelembung itu menguap,
dan kapur barus menyublim..
Justru sebab aku sempat miskin struktur,
lemah adat,
juga buta ritual..
bukankah aku tak menuntutmu mangaum bak singa
ataupun menyalak rupa anjing?
Andai..
Misalnya kau sungguh ingin mengenalku..
Mungkin..
Tak perlu sekelumit kerumit ini
Bagaimana..
Bila kubawa kembali saja sang genta ke dalam gua..
Baiknya..
Sekalian ku luluh lantahkan saja agar tak lagi akan menggema dentingnya..
Ketimbang harus merangkaimu serupa anganku namun tak sekehendakmu…
-ste ayesha-
27 des 2010
(memandang sore dr balik kotak berkaca)
Rabu, 22 Desember 2010
Gemerisik Berbisik
pernahkah kau menyentuh perih yang menyenangkan hingga menyesakkan?
atau justru kegembiraan yang memilukan...
bagai candu ia..
sakitnya menagih, sehingga bila tidak pedih, maka kau usahakan untuk iya..
orang bilang, polos hati dan kopong pikir hanya berbatas rambut belah tujuh..
mengapa yang tadinya kupikir langkah surga justru membakarku melebihi neraka..
mungkin tingkahku keliru, tapi kasihku tak akan salah..akan geming kala kudengar rayu menumbal..
baiknya kusanggah genta ini..
ste ayesha
23 des 2010
(mngusap rinai di mata)
Selasa, 02 November 2010
Menganomali Kala Beranimo
lebih-lebih langkah bercinta..
apa sebab ku tak membiarkan dicinta..
cinta itu cita atau cita-cita?
dicipta karena animo,
atau justru pencipta gejala anomali..
hai pencinta, kalahkan cintaku pada diri,
jika ingin mencintai Sang Calak..
-2 November 2010- chez nous
Sandi Wara S
kukenakannya demi mencipta gempita yang menggegap..
riuh pendar pengharapan menanti kupenuhi,
namun tak kunjung tiba denyar kepuasan..
pikirku, titah adalah hidup..
hingga kabutku tersingkap..
tarianmu menyita pandangku..
namun kusembunyikan binarnya, karena aku berjelaga..
mengapa kau seka aku?
harusnya tak ku campakkan cadarku..
sangka ku, kau berbeda
tak mengharap aku berlakon..
kapan usai pentas ini.
-30 Oktober 2010-
Menampik
juga ombak agar menghempasnya..
namun bahkan api, tak sanggup memanggangnya hangus hingga enyah..
Kumaki hawa yang tertunggang aromanya, yang sebentar vanilla, terkadang cokelat, pernah juga kopi..
Sesak..
amat teresap kala ku cecap..
Sesat..
cilakanya, tak kunjung terbekap keinginan menyesap..
Padahal aku telah punya firasat...
29 Oktober 2010
-bilik 735 RSPP-
Merintih Saat Meniti
semisal boleh tak berpeluh..
mungkin tak lagi aku kerap tergugu..
siapa rupanya peramu rasa?
mengapa disuguhkannya padaku..
aku benci ASA yang terangkai atas RASA..
seakan tiap cabang kehidupan akan membuatku merona alih-alih merana..
-27 Oktober 2010-
kala keberagaman justru diseragamkan...seram...
Semua serba stereotype..
bagiku penting adanya peka perasa..
sehingga bahkan bila mata membuta,
mata hati masih bisa menatap
bukan malah meratap..
-9 Oktober 2010-
Bertalu Mendayu
Tak akankah nyaru?
Samakah aku dgn segenap peran pembantu..
hanya sekilas dpandang dgn sayu..
Tanpa bekas berlalu..
dibiarkan hingga layu..
Tak perlu berkuda berjibaku untuk mnyahut talu genta yg kubungkus ayu..
Cukup sambut rindu dgn rayu
Asu!!!!!
Aku malu....
Walau mau...
-09 Oktober 2010-
Brown-Tak
Serupa nyiur dihembus angin, kami tetap di sini. Hanya terkadang condong kiri kadang limbung kanan..
-29 September 2010-
(Melatih yg tertatih krn titah)
Rangka yang Menyerpih
gelaknya pun sebebas masa itu..
kerlingan matanya menatapku serupa dahulu..
sentuhnya pun sehangat yang ku kenang..
terasa tetap begitu dekat..
acap terbaca dan teraba..
terus mengorbit dalam jangkauan mata juga hati..
namun mengapa tak boleh lagi kurengkuh?
tak mungkinkah kumiliki kembali...
-11 Agustus 2010- (MemBekap gema)
Tercekat Sekat
teracuni apa gerangan?
hingga debar jantungku seirama denyut nadinya,
hembus napasku pun kembar melodi dengan kembang-kempis dadanya..
macam tercabut serabut jiwaku..
layaknya badai, tanpa peringatan disapunya asa kami..
tak lagi kami punya masa..terpaksa dipendam sang rasa..
biarlah mengendap jadi kerak, mungkin justru akan menguat...
meski tak pernah akan dibiarkan menguak..
-10 Agustus 2010- (upaya maya merelakan JeyeekKu)
Tercengang Kala Tercekat
tak ku panggil Mentari meski ingin kehangatan..
kapan pula ku mengemis kasih, meski jiwa haus disirami..
aku pun tidak memohonkan nama, biarpun batin mencita disalut..
kenapa pula lupa pada aku yang kemarin? barangkali sakit aku?
menghiba hadirmu seperti merapal mantera aku..
dahaga akan senyummu menjadi rintihanku..
gelak tawa menyahut candamu menjadi canduku..
bersetatap denganmu bagai kutukan rindu..
dengan jelas kuingat..tak ku pinta barang satu..
namun mengapa melepasnya ku tak mampu?
terus ku cari..aku masih ingin lagi..
baru kali ini kubertelut lantas melipat tangan demi meminta satu.."kamu"
-4 Agustus 2010- (mengemis dari pengemis)
Serupa Angin
tapi tak ada satu pun yang dapat benar-benar menjabarkan apa yang ku rasa..
harus ku namai apa luka ini?
bukan hanya perih, pedih, pilu ataupun ngilu..
tidak..belum cukup menggambarkannya..
rasa ini..CINTA?!
membuatku ingin berhenti ber-oksidasi..
karena angin, serupa CINTA..
saban kuhirup, harus ku hembuskan kembali..
sakit karena tak bisa kusimpan..hanya datang lalu pergi..
2 agustus 2010 (kala getar Sang genta dipaksa geming)
Membisu Karena Membiru
wujud mempertahankankah atau memaksakan...
Saat yang dikasihi mengatakan amat besar rasa sayangnya, namun hanya sebagai wujud penyeimbang atas kebaikan yang kuberi..
haruskah ku memaksanya tetap ada?
Saat dapat kulihat dan kerap kunikmati pancar ketulusan di tiap tingkah dan sentuhnya, namun bantahnya itu sebatas langkah mencoba...
bolehkah ku pinta ia tetap berbohong?
Saat kekasih mengatakan sungguh baik diri ini, tapi lantas meminta maaf karena tidak dapat bersyukur atasnya...
haruskah menutup mata dan berpaling dari kenyataan bahwa sesungguhnya tak akan cukup baik diri ini baginya?
Saat orang yang menyentuh jiwa kita mengaku bahwa tak dapat ku membuatnya menggila...
sanggupkah tangan ini memohon?
Bukan gengsi yang menahanku...
Bukan pula amarah yang membelenggu harapku terhadapnya...
Apalagi benci, yang menjebakku hingga mengangguk untuk berhenti menjalin...
Melainkan kasih ini yang bicara, yang mengajarku untuk mau merelakan raga...
demi mempertahankan nyaman rasamu...
Walau untuk itu, harus berhati-hati bila kubernapas..sungguh merasuk ia dalam nadi..bagai racun yang enggan lenyap..
Janjiku, sedu sedan hanya malam ini saja.
1 Aout 2010
Rabu, 28 Juli 2010
Menawar Pinta
Aku Cemburu
Aku cemburu pada ombak yang tak pernah dituntut pertanyaan kapan akan bergulung datang atau pergi…
Aku cemburu pada rinai hujan yang selalu menetes ke bawah tanpa ada yang bertanya mengapa ia menitik…
Aku cemburu pada angin yang acak berhembus tanpa ada yang bertanya arahnya…
Aku cemburu pada matahari yang bebas memancarkan teriknya…
Aku cemburu pada balok es yang boleh memilih untuk dingin membeku…
Aku cemburu pada yang tak pernah merasa cemburu…
Aku cemburu pada yang bebas memuntahkan kecemburuan…
Aku cemburu pada siapa saja yang tahu makna mencemburui…karena mungkin mereka tahu bagaimana untuk berhenti cemburu…
Haruskah aku cemburu pada yang telah berhenti…
Yang entah berhenti cemburu karena menahan nafas…
Atau pada yang berhenti bernafas karena menahan cemburu…
Sungguh cemburu pada aku yang dulu…yang pernah mati rasa…hingga mati asa…
Ste Ayesha
LarInda-28 juli 2010



