aku tak tahu rumus mencinta,
lebih-lebih langkah bercinta..
apa sebab ku tak membiarkan dicinta..
cinta itu cita atau cita-cita?
dicipta karena animo,
atau justru pencipta gejala anomali..
hai pencinta, kalahkan cintaku pada diri,
jika ingin mencintai Sang Calak..
-2 November 2010- chez nous
Selasa, 02 November 2010
Sandi Wara S
kala semesta mengangsurkan topeng,
kukenakannya demi mencipta gempita yang menggegap..
riuh pendar pengharapan menanti kupenuhi,
namun tak kunjung tiba denyar kepuasan..
pikirku, titah adalah hidup..
hingga kabutku tersingkap..
tarianmu menyita pandangku..
namun kusembunyikan binarnya, karena aku berjelaga..
mengapa kau seka aku?
harusnya tak ku campakkan cadarku..
sangka ku, kau berbeda
tak mengharap aku berlakon..
kapan usai pentas ini.
-30 Oktober 2010-
kukenakannya demi mencipta gempita yang menggegap..
riuh pendar pengharapan menanti kupenuhi,
namun tak kunjung tiba denyar kepuasan..
pikirku, titah adalah hidup..
hingga kabutku tersingkap..
tarianmu menyita pandangku..
namun kusembunyikan binarnya, karena aku berjelaga..
mengapa kau seka aku?
harusnya tak ku campakkan cadarku..
sangka ku, kau berbeda
tak mengharap aku berlakon..
kapan usai pentas ini.
-30 Oktober 2010-
Menampik
Aku telah mengirimkan angin untuk menghembusnya..
juga ombak agar menghempasnya..
namun bahkan api, tak sanggup memanggangnya hangus hingga enyah..
Kumaki hawa yang tertunggang aromanya, yang sebentar vanilla, terkadang cokelat, pernah juga kopi..
Sesak..
amat teresap kala ku cecap..
Sesat..
cilakanya, tak kunjung terbekap keinginan menyesap..
Padahal aku telah punya firasat...
29 Oktober 2010
-bilik 735 RSPP-
juga ombak agar menghempasnya..
namun bahkan api, tak sanggup memanggangnya hangus hingga enyah..
Kumaki hawa yang tertunggang aromanya, yang sebentar vanilla, terkadang cokelat, pernah juga kopi..
Sesak..
amat teresap kala ku cecap..
Sesat..
cilakanya, tak kunjung terbekap keinginan menyesap..
Padahal aku telah punya firasat...
29 Oktober 2010
-bilik 735 RSPP-
Merintih Saat Meniti
seandainya ku tak perlu berdarah..
semisal boleh tak berpeluh..
mungkin tak lagi aku kerap tergugu..
siapa rupanya peramu rasa?
mengapa disuguhkannya padaku..
aku benci ASA yang terangkai atas RASA..
seakan tiap cabang kehidupan akan membuatku merona alih-alih merana..
-27 Oktober 2010-
semisal boleh tak berpeluh..
mungkin tak lagi aku kerap tergugu..
siapa rupanya peramu rasa?
mengapa disuguhkannya padaku..
aku benci ASA yang terangkai atas RASA..
seakan tiap cabang kehidupan akan membuatku merona alih-alih merana..
-27 Oktober 2010-
kala keberagaman justru diseragamkan...seram...
Bagaimana kita bisa memilah apabila keseragaman melanda?
Semua serba stereotype..
bagiku penting adanya peka perasa..
sehingga bahkan bila mata membuta,
mata hati masih bisa menatap
bukan malah meratap..
-9 Oktober 2010-
Semua serba stereotype..
bagiku penting adanya peka perasa..
sehingga bahkan bila mata membuta,
mata hati masih bisa menatap
bukan malah meratap..
-9 Oktober 2010-
Bertalu Mendayu
Apabila seluruh perempuan berwajah serupa baku, akankah kau mengenaliku satu diantara seribu?
Tak akankah nyaru?
Samakah aku dgn segenap peran pembantu..
hanya sekilas dpandang dgn sayu..
Tanpa bekas berlalu..
dibiarkan hingga layu..
Tak perlu berkuda berjibaku untuk mnyahut talu genta yg kubungkus ayu..
Cukup sambut rindu dgn rayu
Asu!!!!!
Aku malu....
Walau mau...
-09 Oktober 2010-
Tak akankah nyaru?
Samakah aku dgn segenap peran pembantu..
hanya sekilas dpandang dgn sayu..
Tanpa bekas berlalu..
dibiarkan hingga layu..
Tak perlu berkuda berjibaku untuk mnyahut talu genta yg kubungkus ayu..
Cukup sambut rindu dgn rayu
Asu!!!!!
Aku malu....
Walau mau...
-09 Oktober 2010-
Brown-Tak
Sebatang manisan tak ayal melayangkan angan pada kala manis yang terlampau. Lumer kala dilumat indera pencecap, mengiringi seruak momentomory yang kerap ku umpat. Karena rasanyakah ku mendadak resah? Atau sebab risakah maka kembali ku merasa.
Serupa nyiur dihembus angin, kami tetap di sini. Hanya terkadang condong kiri kadang limbung kanan..
-29 September 2010-
(Melatih yg tertatih krn titah)
Serupa nyiur dihembus angin, kami tetap di sini. Hanya terkadang condong kiri kadang limbung kanan..
-29 September 2010-
(Melatih yg tertatih krn titah)
Rangka yang Menyerpih
senyumnya tetap setulus biasa..
gelaknya pun sebebas masa itu..
kerlingan matanya menatapku serupa dahulu..
sentuhnya pun sehangat yang ku kenang..
terasa tetap begitu dekat..
acap terbaca dan teraba..
terus mengorbit dalam jangkauan mata juga hati..
namun mengapa tak boleh lagi kurengkuh?
tak mungkinkah kumiliki kembali...
-11 Agustus 2010- (MemBekap gema)
gelaknya pun sebebas masa itu..
kerlingan matanya menatapku serupa dahulu..
sentuhnya pun sehangat yang ku kenang..
terasa tetap begitu dekat..
acap terbaca dan teraba..
terus mengorbit dalam jangkauan mata juga hati..
namun mengapa tak boleh lagi kurengkuh?
tak mungkinkah kumiliki kembali...
-11 Agustus 2010- (MemBekap gema)
Tercekat Sekat
bagai bara setungku, padam ia..mati pula aku..
teracuni apa gerangan?
hingga debar jantungku seirama denyut nadinya,
hembus napasku pun kembar melodi dengan kembang-kempis dadanya..
macam tercabut serabut jiwaku..
layaknya badai, tanpa peringatan disapunya asa kami..
tak lagi kami punya masa..terpaksa dipendam sang rasa..
biarlah mengendap jadi kerak, mungkin justru akan menguat...
meski tak pernah akan dibiarkan menguak..
-10 Agustus 2010- (upaya maya merelakan JeyeekKu)
teracuni apa gerangan?
hingga debar jantungku seirama denyut nadinya,
hembus napasku pun kembar melodi dengan kembang-kempis dadanya..
macam tercabut serabut jiwaku..
layaknya badai, tanpa peringatan disapunya asa kami..
tak lagi kami punya masa..terpaksa dipendam sang rasa..
biarlah mengendap jadi kerak, mungkin justru akan menguat...
meski tak pernah akan dibiarkan menguak..
-10 Agustus 2010- (upaya maya merelakan JeyeekKu)
Tercengang Kala Tercekat
Tak pernah ku pinta kan hujan walau butuh air..
tak ku panggil Mentari meski ingin kehangatan..
kapan pula ku mengemis kasih, meski jiwa haus disirami..
aku pun tidak memohonkan nama, biarpun batin mencita disalut..
kenapa pula lupa pada aku yang kemarin? barangkali sakit aku?
menghiba hadirmu seperti merapal mantera aku..
dahaga akan senyummu menjadi rintihanku..
gelak tawa menyahut candamu menjadi canduku..
bersetatap denganmu bagai kutukan rindu..
dengan jelas kuingat..tak ku pinta barang satu..
namun mengapa melepasnya ku tak mampu?
terus ku cari..aku masih ingin lagi..
baru kali ini kubertelut lantas melipat tangan demi meminta satu.."kamu"
-4 Agustus 2010- (mengemis dari pengemis)
tak ku panggil Mentari meski ingin kehangatan..
kapan pula ku mengemis kasih, meski jiwa haus disirami..
aku pun tidak memohonkan nama, biarpun batin mencita disalut..
kenapa pula lupa pada aku yang kemarin? barangkali sakit aku?
menghiba hadirmu seperti merapal mantera aku..
dahaga akan senyummu menjadi rintihanku..
gelak tawa menyahut candamu menjadi canduku..
bersetatap denganmu bagai kutukan rindu..
dengan jelas kuingat..tak ku pinta barang satu..
namun mengapa melepasnya ku tak mampu?
terus ku cari..aku masih ingin lagi..
baru kali ini kubertelut lantas melipat tangan demi meminta satu.."kamu"
-4 Agustus 2010- (mengemis dari pengemis)
Serupa Angin
semua kata yang melambangkan ketidaknyamanan telah kucari..
tapi tak ada satu pun yang dapat benar-benar menjabarkan apa yang ku rasa..
harus ku namai apa luka ini?
bukan hanya perih, pedih, pilu ataupun ngilu..
tidak..belum cukup menggambarkannya..
rasa ini..CINTA?!
membuatku ingin berhenti ber-oksidasi..
karena angin, serupa CINTA..
saban kuhirup, harus ku hembuskan kembali..
sakit karena tak bisa kusimpan..hanya datang lalu pergi..
2 agustus 2010 (kala getar Sang genta dipaksa geming)
tapi tak ada satu pun yang dapat benar-benar menjabarkan apa yang ku rasa..
harus ku namai apa luka ini?
bukan hanya perih, pedih, pilu ataupun ngilu..
tidak..belum cukup menggambarkannya..
rasa ini..CINTA?!
membuatku ingin berhenti ber-oksidasi..
karena angin, serupa CINTA..
saban kuhirup, harus ku hembuskan kembali..
sakit karena tak bisa kusimpan..hanya datang lalu pergi..
2 agustus 2010 (kala getar Sang genta dipaksa geming)
Membisu Karena Membiru
Bagaimana memaknai hal yang kita perjuangkan?
wujud mempertahankankah atau memaksakan...
Saat yang dikasihi mengatakan amat besar rasa sayangnya, namun hanya sebagai wujud penyeimbang atas kebaikan yang kuberi..
haruskah ku memaksanya tetap ada?
Saat dapat kulihat dan kerap kunikmati pancar ketulusan di tiap tingkah dan sentuhnya, namun bantahnya itu sebatas langkah mencoba...
bolehkah ku pinta ia tetap berbohong?
Saat kekasih mengatakan sungguh baik diri ini, tapi lantas meminta maaf karena tidak dapat bersyukur atasnya...
haruskah menutup mata dan berpaling dari kenyataan bahwa sesungguhnya tak akan cukup baik diri ini baginya?
Saat orang yang menyentuh jiwa kita mengaku bahwa tak dapat ku membuatnya menggila...
sanggupkah tangan ini memohon?
Bukan gengsi yang menahanku...
Bukan pula amarah yang membelenggu harapku terhadapnya...
Apalagi benci, yang menjebakku hingga mengangguk untuk berhenti menjalin...
Melainkan kasih ini yang bicara, yang mengajarku untuk mau merelakan raga...
demi mempertahankan nyaman rasamu...
Walau untuk itu, harus berhati-hati bila kubernapas..sungguh merasuk ia dalam nadi..bagai racun yang enggan lenyap..
Janjiku, sedu sedan hanya malam ini saja.
1 Aout 2010
wujud mempertahankankah atau memaksakan...
Saat yang dikasihi mengatakan amat besar rasa sayangnya, namun hanya sebagai wujud penyeimbang atas kebaikan yang kuberi..
haruskah ku memaksanya tetap ada?
Saat dapat kulihat dan kerap kunikmati pancar ketulusan di tiap tingkah dan sentuhnya, namun bantahnya itu sebatas langkah mencoba...
bolehkah ku pinta ia tetap berbohong?
Saat kekasih mengatakan sungguh baik diri ini, tapi lantas meminta maaf karena tidak dapat bersyukur atasnya...
haruskah menutup mata dan berpaling dari kenyataan bahwa sesungguhnya tak akan cukup baik diri ini baginya?
Saat orang yang menyentuh jiwa kita mengaku bahwa tak dapat ku membuatnya menggila...
sanggupkah tangan ini memohon?
Bukan gengsi yang menahanku...
Bukan pula amarah yang membelenggu harapku terhadapnya...
Apalagi benci, yang menjebakku hingga mengangguk untuk berhenti menjalin...
Melainkan kasih ini yang bicara, yang mengajarku untuk mau merelakan raga...
demi mempertahankan nyaman rasamu...
Walau untuk itu, harus berhati-hati bila kubernapas..sungguh merasuk ia dalam nadi..bagai racun yang enggan lenyap..
Janjiku, sedu sedan hanya malam ini saja.
1 Aout 2010
Langganan:
Postingan (Atom)

