Bagaimana memaknai hal yang kita perjuangkan?
wujud mempertahankankah atau memaksakan...
Saat yang dikasihi mengatakan amat besar rasa sayangnya, namun hanya sebagai wujud penyeimbang atas kebaikan yang kuberi..
haruskah ku memaksanya tetap ada?
Saat dapat kulihat dan kerap kunikmati pancar ketulusan di tiap tingkah dan sentuhnya, namun bantahnya itu sebatas langkah mencoba...
bolehkah ku pinta ia tetap berbohong?
Saat kekasih mengatakan sungguh baik diri ini, tapi lantas meminta maaf karena tidak dapat bersyukur atasnya...
haruskah menutup mata dan berpaling dari kenyataan bahwa sesungguhnya tak akan cukup baik diri ini baginya?
Saat orang yang menyentuh jiwa kita mengaku bahwa tak dapat ku membuatnya menggila...
sanggupkah tangan ini memohon?
Bukan gengsi yang menahanku...
Bukan pula amarah yang membelenggu harapku terhadapnya...
Apalagi benci, yang menjebakku hingga mengangguk untuk berhenti menjalin...
Melainkan kasih ini yang bicara, yang mengajarku untuk mau merelakan raga...
demi mempertahankan nyaman rasamu...
Walau untuk itu, harus berhati-hati bila kubernapas..sungguh merasuk ia dalam nadi..bagai racun yang enggan lenyap..
Janjiku, sedu sedan hanya malam ini saja.
1 Aout 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar